Kemarin aku melihat seorang Ibu dan anaknya yang lagi duduk-duduk disebelah saya waktu menunggu kereta api menuju Kediri. Berangkat dari stasiun Kota Baru Malang.
Dengan tidak disangka" anak itu berkata kepada Ibunya.
“Dimana Mata Hati itu ibu?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut mungil bocah berusia empat tahun. Tangannya masih terus memainkan mobil kecil sambil sesekali ia melihat wajah bunda yang duduk membaca buku.
Bunda menatap ke dalam mata sang buah hati. Bibirnya menyunggikan senyum. Tak pernah terpikir dua kata akan menjadi inti pertanyaan anak kesayangannya itu. Mata Hati, dimana Mata Hati? Bahkan sang bunda kemudian berpikir keras untuk memberikan jawaban kepada sang buah hatinya.
**** **** ****
MATA HATI – apakah hati kita memiliki mata? Di mana Mata Hati berada? Dua rangkai kata ini mengingatkanku pada nasyid yang memiliki lirik:
Pandangan mata selalu menipu ..
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan nafus selalu meluruh ..
Pandangan hati itu yang hakiki
Kalau hati itu bersih
Hati bila selalu bersih ..
Pandangannya akan menembusi hijab
Hati jika sudah bersih ..
Firasatnya tepat kehendak Allah
tapi Hati, bila dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran (2x)
Hati tempat jatuhnya pandangan Allah
Jasad lahir tumpuan manusia (2 x)
Utamakanlah, pandangan Allah
Daripada Pandangan Manusia (2 x)



0 Comments:
Post a Comment